header image

Berteman Kertas

Posted by: wimax | November 21, 2009 | No Comment |

Kertas lagi, kertas lagi… Huah, setiap hari aku harus setia berteman dengan kertas. Sekelilingku dipenuhi oleh kertas dan segala macam benda yang berhubungan dengan kertas, seperti pulpen, pensil, tipp ex, stapler, stempel, klip, gunting, lem, selotip, atau komputer lengkap dengan printernya. Jujur, aku merasa jenuh dan bosan melihat kertas.

Beberapa orang berpendapat bahwa bekerja di pajak itu enak. Tinggal duduk di meja dan menghitung uang. Benar sih menghitung uang, tapi bukan uang dalam bentuk sebenarnya. Melainkan “nilai uang” yang tercantum dalam lembaran-lembaran kertas.

Mataku sudah terbiasa membaca nilai jutaan, milyaran, atau trilyunan pada selembar kertas. Kadang dalam hati ini terpikir, “Kapan ya tabunganku di bank menunjukkan nilai segini?”. Ah, tapi yang kulihat itu hanyalah kertas. Aku pelototi sampai mata berair pun takkan berubah kertas itu menjadi uang. Aku bukan Limbad.

Meskipun hanya satu lembar, kertas itu nggak bisa diperlakukan seenaknya. Selembar kertas yang hilang bisa berarti kita harus bersusah payah untuk bisa mendapatkannya kembali. Harus mengurus persyaratan di berbagai macam kantor, harus melewati birokrasi yang berbelit-belit, harus keluar uang, belum lagi harus menerima tertawaan, cacian, atau hinaan dari atasan dan teman-teman sekantor.

Demikian pula dengan selembar kertas yang kita hasilkan. Jika selembar kertas itu memuat data / perhitungan yang salah, akibatnya bisa fatal. Yang kena imbasnya bukan cuma kita, tapi juga orang-orang yang memproses data tersebut. Terkadang juga ada kejadian seperti ini : Data yang kita tulis pada kertas sudah benar, namun orang yang memprosesnya keliru dalam memahaminya. Dan kita sebagai pembuat data yang benar malah ikut-ikutan disalahkan. Benar-benar menjengkelkan.

Ada pula kertas-kertas yang membutuhkan kekuatan dan konsentrasi maksimum untuk menerjemahkan informasi di dalamnya. Yang termasuk di kategori ini adalah peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh pusat. Kalau cuma 10 lembar sih masih mending. Bagaimana kalau lebih dari 50 lembar?
“Males ah,”
“Gak sempat baca,”
“Nanti aja,”
“Aduh, apa lagi ini?”
Kertas-kertas jenis ini biasanya hanya akan menjadi pengisi lemari-lemari penyimpan arsip.

Aku, jika sudah sepet melihat kertas, biasanya akan melampiaskannya dengan menyobek-nyobek kertas sekuat tenaga dan membuangnya ke tempat sampah. Sesaat perasaanku puas dan lega. Tetapi tak lama kemudian muncul rasa bersalah. Mengapa? Karena kertas itu asalnya dari pohon. Berapa banyak pohon di dunia ditebang, hanya untuk memproduksi kertas? Memboroskan kertas berarti juga menebang pohon dengan sia-sia. Serba salah deh pokoknya.

Wahai kertas, pergilah dari hidupku…

under: Story

Gadis Berwajah Bantal

Posted by: wimax | October 25, 2009 | No Comment |

Aku terkejut ketika pertama kali melihatnya. Kupikir dia hantu. Aku ingin berteriak “AAAAHH!!” tetapi tidak jadi. Aku baru menyadari bahwa dia hanya seorang gadis biasa, dengan sebuah bantal yang menutupi wajahnya.

Karena penasaran, aku duduk di dekatnya. Kuperhatikan dengan seksama kakinya yang hampir seukuran kakiku. Lalu tangannya yang mungil dan jari-jarinya yang halus. Tak salah lagi, dia temanku. Aku bersyukur terlahir sebagai laki-laki. Aku bisa mengenali seseorang berdasarkan bentuk tubuhnya. Tanpa harus melihat wajahnya.

Tapi mengapa dia menutupi wajahnya dengan bantal? Padahal setiap dia bertemu denganku, dia selalu tersenyum dan memanggil namaku. Aku semakin penasaran. Tapi aku tak berani mengambil bantal yang melekat di wajahnya. “Biarkan saja, mungkin dia sedang tidur dan tidak ingin diganggu,” begitu pikirku.

Tak lama kemudian, mobil travel yang aku tumpangi meluncur menembus malam.

Dan mataku semakin berat rasanya. Selanjutnya aku tidak ingat apa-apa lagi.

Aku terbangun karena merasa didorong oleh seseorang. Astaga! Ternyata aku tertidur dengan posisi miring. Dan kepalaku jatuh tepat di bantal yang digunakan gadis itu untuk menutupi wajah. (Siapa suruh masang bantal di wajah? Kalo nanti gak bisa napas, gimana coba?)

Secara refleks aku menegakkan tubuh. Mata ini masih terasa berat. Lalu aku memutuskan untuk melanjutkan mimpi yang terputus.

Aku baru bisa membuka mata lebar-lebar ketika travel telah sampai di daerah Tembalang, kota Semarang. Gadis itu sudah tak lagi menutupi wajahnya dengan bantal. Tapi sikapnya begitu dingin. Kami berdua diam tanpa kata, seolah tak saling kenal. Hatiku berbisik, “Ada apa denganmu?”.

Travel berhenti di depan tempat tinggal gadis itu. Aku membukakan pintu mobil untuknya. Dia turun tanpa melihatku sedikit pun.

Mungkin dia sedang marah padaku. Mungkin dia membenciku. Mungkin dia ingin membentakku, “DASAR COWOK MESUM!” dan menampar wajahku yang mirip tuyul ini. Tapi aku tetap saja takkan mengerti alasan dia mendiamkanku seperti itu.

Aku sampai di kosan dengan selamat. Kuputar sebuah lagu di hape. Dari Five Minutes dengan judul “Salah Apa”.

Salah apa kau membenciku
Salah apa kau meninggalkanku
Andai kutahu
Kau tak inginkan aku…

under: Story

Miyabi Dan Kemunafikan

Posted by: wimax | October 10, 2009 | No Comment |

Maxima Picture membuat sensasi. Mereka berencana membuat film bioskop yang dibintangi oleh Raditya Dika dan Maria Ozawa. Film itu berjudul “Menculik Miyabi”.

Film yang disebut-sebut bergenre komedi tersebut mengisahkan Raffa (diperankan oleh Raditya Dika) dan dua orang teman prianya yang sedang bingung mencarikan hadiah untuk pacar-pacar mereka. Tanpa sengaja mereka melewati toko pakaian dalam dan terpesona oleh kecantikan seorang wanita yang bekerja di toko itu. Mereka kemudian menyusun rencana untuk menculik wanita yang bernama Miyabi itu.

Sekilas ceritanya terdengar biasa saja. Yang membikin heboh justru bintang filmnya. Maklum, di Indonesia, nama Maria Ozawa alias Miyabi sudah tak asing lagi bagi kalangan remaja laki-laki yang paham teknologi. Wanita yang berasal dari Jepang ini terkenal karena dia adalah bintang film xxx.

Maka jangan heran apabila Maxima Picture membuka audisi untuk menyeleksi pemain film ini, akan ada ratusan, bahkan ribuan orang yang rela mendaftar dan berakting tanpa dibayar.

Suara-suara yang menyatakan pro dan kontra terhadap kedatangan Miyabi ke Indonesia bermunculan. Yang kontra mengajukan berbagai macam alasan. Antara lain, status Miyabi sebagai bintang film xxx dianggap bermasalah. Biaya dan bayaran untuk mendatangkan Miyabi juga tidak sedikit. Kolaborasi dengan Raditya Dika dikhawatirkan akan melahirkan film komedi berbau vulgar yang merusak moral bangsa Indonesia.

Yang pro dengan Miyabi juga tidak mau kalah. Dengan dalih yang bermacam-macam pula, mereka menyerang yang kontra. Miyabi hanya akan bermain dalam film komedi biasa. Kedatangan Miyabi bisa sekaligus mempromosikan Indonesia. Miyabi nggak akan berbuat macam-macam di Indonesia, dsb.

Selain itu, yang pro menuduh yang kontra dengan sebutan munafik. Lain di mulut, lain di hati. Nggak suka Miyabi datang, tetapi dalam kehidupan sehari-hari suka main perempuan. Suka korupsi. Terlalu otoriter. Nggak konsisten sama pendiriannya.

Munafik? Iya benar. Setiap lelaki tentu menyukai perempuan yang cantik seperti Miyabi. Tetapi kecantikan fisik jika tidak ditunjang oleh kecantikan hati, sama saja bohong. Tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa orang Indonesia masih menomorsatukan penampilan fisik.

Sekarang, siapapun yang tidak tahu Miyabi, menjadi tahu. Termasuk para generasi penerus. Zaman sekarang, anak ingusan sudah tahu apa itu pacaran. Ini memalukan. Jika nanti ada orang luar negeri berpendapat, “Wah, Indonesia hebat. Bisa mendatangkan bintang xxx Jepang,”. Bukankah akan terdengar janggal di telinga anda?

Ah, apapun rintangannya, tidak akan membuat pihak Maxima Picture membatalkan kedatangan Miyabi. Mereka sangat optimis bahwa keuntungan yang didapat dari pemutaran film ini akan bisa menutupi ongkos mendatangkan Miyabi. Mereka juga berjanji akan menyumbangkan sebagian keuntungan untuk korban gempa di Padang.

Aku secara pribadi lebih khawatir, jika Miyabi benar-benar jadi datang ke Indonesia, momen ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka akan membuat film sendiri yang berjudul “Meniduri Miyabi”.

under: Article

Older Posts »

Categories