Kertas lagi, kertas lagi… Huah, setiap hari aku harus setia berteman dengan kertas. Sekelilingku dipenuhi oleh kertas dan segala macam benda yang berhubungan dengan kertas, seperti pulpen, pensil, tipp ex, stapler, stempel, klip, gunting, lem, selotip, atau komputer lengkap dengan printernya. Jujur, aku merasa jenuh dan bosan melihat kertas.
Beberapa orang berpendapat bahwa bekerja di pajak itu enak. Tinggal duduk di meja dan menghitung uang. Benar sih menghitung uang, tapi bukan uang dalam bentuk sebenarnya. Melainkan “nilai uang” yang tercantum dalam lembaran-lembaran kertas.
Mataku sudah terbiasa membaca nilai jutaan, milyaran, atau trilyunan pada selembar kertas. Kadang dalam hati ini terpikir, “Kapan ya tabunganku di bank menunjukkan nilai segini?”. Ah, tapi yang kulihat itu hanyalah kertas. Aku pelototi sampai mata berair pun takkan berubah kertas itu menjadi uang. Aku bukan Limbad.
Meskipun hanya satu lembar, kertas itu nggak bisa diperlakukan seenaknya. Selembar kertas yang hilang bisa berarti kita harus bersusah payah untuk bisa mendapatkannya kembali. Harus mengurus persyaratan di berbagai macam kantor, harus melewati birokrasi yang berbelit-belit, harus keluar uang, belum lagi harus menerima tertawaan, cacian, atau hinaan dari atasan dan teman-teman sekantor.
Demikian pula dengan selembar kertas yang kita hasilkan. Jika selembar kertas itu memuat data / perhitungan yang salah, akibatnya bisa fatal. Yang kena imbasnya bukan cuma kita, tapi juga orang-orang yang memproses data tersebut. Terkadang juga ada kejadian seperti ini : Data yang kita tulis pada kertas sudah benar, namun orang yang memprosesnya keliru dalam memahaminya. Dan kita sebagai pembuat data yang benar malah ikut-ikutan disalahkan. Benar-benar menjengkelkan.
Ada pula kertas-kertas yang membutuhkan kekuatan dan konsentrasi maksimum untuk menerjemahkan informasi di dalamnya. Yang termasuk di kategori ini adalah peraturan-peraturan yang diterbitkan oleh pusat. Kalau cuma 10 lembar sih masih mending. Bagaimana kalau lebih dari 50 lembar?
“Males ah,”
“Gak sempat baca,”
“Nanti aja,”
“Aduh, apa lagi ini?”
Kertas-kertas jenis ini biasanya hanya akan menjadi pengisi lemari-lemari penyimpan arsip.
Aku, jika sudah sepet melihat kertas, biasanya akan melampiaskannya dengan menyobek-nyobek kertas sekuat tenaga dan membuangnya ke tempat sampah. Sesaat perasaanku puas dan lega. Tetapi tak lama kemudian muncul rasa bersalah. Mengapa? Karena kertas itu asalnya dari pohon. Berapa banyak pohon di dunia ditebang, hanya untuk memproduksi kertas? Memboroskan kertas berarti juga menebang pohon dengan sia-sia. Serba salah deh pokoknya.
Wahai kertas, pergilah dari hidupku…





